But it seems that I am now placed by universe in a path to live my dream. :)
At first I got some fear too... yeah... maybe that's human's (old) nature.. afraid of something new.
I am in new place, meet new people, new things to do. But the good things is like I am being a freshman again. Reminds me of my freshman year in college, I was feeling that fear too. But then turns out I can pass those years with many lessons and now jump to the new world.
Universe still gives me many inspirational message through things I feel, things I saw, things I got.
And I want to rewrite some of those inspiration that makes me smile and enjoying things I do this days...
Most of them are from Julian Bialowas' artwork and Coldplay's song. :)
And yeah, also from One Piece, my second bible. :D
And once more, Nosstress's song is inspiring me too! :)
- - -
Mengawali Hari (Starting Day)
Nosstress' song entitled Mengawali Hari also inspire me to look far ahead, believe that there will be good things in and after every phase in our life. And still, don't forget to smile. :)
Up With The Birds and U.F.O.
There are two songs in Coldplay's new album Mylo Xyloto that I feel really fit with what happened to me, which are U.F.O. and Up With The Birds.
The lyrics describing uncertain journey, but still, a hopeful journey.
Going to new place, with a big hope and belief. :)
We can learn a lot in uncertainty, meet and feel many new things. We shouldn't be afraid too much of new things. :)
At Least We Find Something New
This artwork is really heplful to face many new things that come. Some of them might be unpleasant, but yeah, at least we find something new. :)
Not Knowing Where I'm Going
This artwork from Julian Bialowas really ensure me about the beauty of uncertainty.
The message of this artwork reminds me too about Monkey D. Luffy in One Piece. He is absolutely not interested to conquer anything. He thinks being a pirate is being free and enjoy the adventurous travel, enjoy the path he face on the ocean. He is not interested to knowing if the "famous hidden treasure" really exists or not. For him, it's a boring adventure if you already know every details of your destination and the route to that destination.
Yeah, I really feel and understand that message. :)
I should enjoy unpredictable days I face every day. :)
It's not a boring adventure. :)
Adventure
And yeah, I have to continue this adventure. I am so grateful that I can write this one during my journey. So refreshing and re-motivating.
See you later. :D
- - -
I have to
and
- - -
P.S. : Big thanks to el, Coldplay, One Piece, Nosstress, Julian Bialowas; and of course. . . universe. :)
Sudah beberapa bulan kuliah formal di kampus selesai. Beberapa hari lagi akan berangkat ke tempat baru, tantangan baru, kesempatan baru, di dunia baru. Banyak pertanyaan lanjut ke mana, kerja di mana, gaji berapa dan sebagainya. Banyak juga yang saling membandingkan gaji.
Oiya, tapi bangga juga sama kawan-kawan yang udah duluan mulai bisnis sendiri. Ada juga yang melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, baik di dalam maupun di luar negeri. Salut. :)
Wajar juga sih ya setelah lulus target pertama duit. Gak bisa dipungkiri juga kalo kita pasti perlu duit untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan juga keinginan.
Tapi semoga uang bukan tujuan utamaku, semoga uang menjadi bonus yang setimpal dengan karyaku. Percaya great money follow great works. :)
Hampir sebulan kembali berdiam di rumah, di Denpasar.
Agak malas keluar karena cuaca yang masih bimbang, antara kemarau dan penghujan.
Masih bersyukur karena ada jaringan internet di rumah, masih bisa mengetahui berita di luar sana lewat internet, khususnya twitter.
Dari twitter teman-lah aku tahu ada band baru dari Bali yang bernama Nosstress (@nosstressbali). Sayang sekali belum sempat menyaksikan penampilan langsungnya. Denger-denger dari temen sih lagunya akustikan dan bernuansa folk, kira-kira mirip Dialog Dini Hari. Aku pun tertarik, beberapa hari ini aku juga lagi sering mendengarkan Dialog Dini Hari.
- - -
Hari ini, aku pun bermain-main ke web Nosstress. Ternyata ada dua lagunya yang dibagikan secara gratis, yaitu Bersama Kita dan Tanam Saja. Senang sekali rasanya, karena bisa mendengarkan karya musisi Indonesia secara legal di tengah godaan unduh-mengunduh musik bajakan. :)
Karena sudah gratis, wujud apresiasi yang bisa kulakukan adalah mengenalkan band ini lewat blogku.
Lagu Tanam Saja bener-bener memancingku untuk kembali menanam tanaman, setidaknya untuk menyejukkan rumahku, atau paling tidak, menempatkan tanaman dalam pot kecil di meja kamar. :) Seperti kata Nosstress, "...satu saja sangat berarti...". Di bagian "...kita harus menanam kembali..." pasti akan jadi sing-along yang indah saat konser. :)
Bersama Kita menceritakan perjalanan hidup beserta lika-likunya yang harus terus dihadapi. Musiknya tenang namun tetap berisi rasa optimis.
Semua cerita dalam setiap hidup takkan selamanya indah
Takkan selamanya buruk
Coba slalu hadapi
Sepertinya pas banget didengerin pagi-pagi saat memulai hari, dan sore hari sambil mandi. Percaya kita pasti akan mendapat teman untuk menjalani hidup. :) Lagu ini asyik banget dan walaupun judulnya mirip slogan Pak Presiden pas pemilu dulu, lirik Bersama Kita versi Nosstress jauh lebih menyegarkan dan gak bikin prihatin. :D
Di web Nosstress juga sudah ada berbagai lirik Nosstress dan CD albumnya juga sudah bisa dibeli. Liat tampilan CDnya di webnya bikin ngiler juga sih, tapi duit masih tipis kemaren baru aja beli CD band indie lainnya. :(
Semoga nanti bisa beli kalo udah ada duit. :)
Di bagian lirik aku juga melihat ada lagu yang berjudul Hiruk Pikuk Denpasar, sepertinya memang menggambarkan keadaan Denpasar di tahun 2011 ini. Setelah lama kutinggalkan kuliah, ternyata sudah banyak berubah. Ini potongan lirik Hiruk Pikuk Denpasar.
Suara bising bukan asing lagi Kepulan asap kendaraan menjejal pagi Bangunan tampak berdiri di sana sini Yang terlihat cuma fatamorgana sunyi
Album pertama Nosstress baru saja dirilis beberapa minggu yang lalu, yang berjudul Perspektif Bodoh. Nosstress menggunakan bahasa Indonesia di berbagai liriknya dengan berbagai cerita. Mulai dari lingkungan, rokok, kebiasaan menunda, hingga kantong sampah.
- - -
Sebelum menutup tulisan ini, aku mengutip alinea awal dari tulisan berjudul Dunia Tak Terduga Nosstress, tulisan karya Gde Putra yang ada di halaman bio Nosstress.
Di saat raungan gitar elektrik dengan suara menyayat sering terdengar di telinga, muncul sayup nada-nada sejuk petikan gitar akustik di salah satu sudut gang di kota berpenduduk padat itu. Nyanyian di jalan sempit itu terdengar “asing” kala itu sebab growl sangar dan scream melengking menguasai panggung-panggung indie di Denpasar. Musik sejuk itu muncul dari salah satu gang tikus di jalan Nangka Selatan. Tidak seperti anak band umumnya yang meracik karya di studio-studio musik dengan peralatan sound system nan ribet, terlihat tiga anak muda sedang asik bermain musik di dalam rumah. Pukulan mantap cajon Cok terdengar padu mengiringi suara merdu Kupit dan manisnya petikan gitar Angga. Seandainya saat itu Anda berada di rumah Angga, gitaris yang merangkap vokalis Nosstress itu, musik mereka berhasil merangsang konsentrasi dan berakhir dengan ketakjuban walaupun “organic” tanpa sound dan speaker.
Setelah mendengarkan 2 lagu dari Nosstress, benar-benar merasa segar di tengah hiruk pikuk Denpasar. Merasa sejuk di tengah riuhnya kota ini. Dan setelah didengar dan dirasa, Nosstress memiliki nuansa yang berbeda dengan Dialog Dini Hari. Nosstress bukan Dialog Dini Hari baru. Nosstress membawa warna baru.
Semoga musik yang didendangkan Nosstress bisa terus menghibur dan menginspirasi. :)
Beberapa hari lalu aku dan temenku pergi ke toko musik, dan berharap CD Coldplay Mylo Xyloto udah ada, ternyata belum. Malah akhirnya aku beli CD lain, hehehe.
Album yang kubeli adalah rasuk karya The Trees & The Wild. The Trees & The Wild (@ttatw) adalah grup musik asal Jakarta. Beranggotakan tiga orang, yaitu Remedy Waloni sebagai lead vocal dan gitaris, Andra Kurniawan di posisi gitar akustik, backing vocal dan bassis, dan Iga Massardi di posisi gitar elektrik sekaligus backing vokal. Lagu-lagunya sederhana, mengutamakan melodi gitar sebagai kekuatan utama. Tapi di album ini juga banyak instrumen lain yang mereka gunakan, dan itu memberi nuansa tersendiri pada tiap lagu. Terasa adem, terasa berada di sekitar pepohonan.
Oiya, grup musik ini juga masuk 5 band Asia yang patut didengar tahun 2011 versi majalah TIME. Bangga, ternyata musik Indonesia bisa diapresiasi secara internasional. Dan entah kenapa infotainment gak pernah menyiarkan band-band indie seperti ini... ah, sudahlah... hahaha.
Ini dia penampakan albumnya, artworknya keren juga lho! :D
Lagu-lagu di album ini banyak menggunakan bahasa Inggris dan beberapa lagu berbahasa Indonesia. Lagu-lagu favoritku antara lain: Verdure, Honeymoon on Ice, Irish Girl, Malino, dan Berlin. Lirik-lirik yang ada di lagu-lagu mereka juga puitis. Salah satunya adalah di lagu penutup yang berjudul Kata.
hitung nafas yang kelak berat
kau kan sakit dan pergi
tanpa waktu yg pasti
Buat kawan-kawan yang belum pernah denger, aku sarankan denger Irish Girl dulu, sepertinya lagu itu yang paling catchy. Kalo yang paling kusuka sih tetep Malino. Melodi gitarnya begitu menenangkan.Malino juga menjadi soundtrack utama film dokumenter yang mereka buat, yang berjudul Dua Tiang Tujuh Layar.
Seneng juga akhirnya bisa beli album ini. :)
Performa live mereka juga keren lho. :D Aku baru sekali melihat konser mereka, yaitu ketika mereka menjadi bintang utama di acara yang diadakan SMA 2 Jogja. Semoga bisa nonton konser mereka lagi di lain waktu. Untung juga waktu itu berkesempatan foto bareng sama personil-personilnya setelah konser. Mereka baik hati dan tidak sombong! :D
Film berjudul Temple Grandin adalah sebuah biopik dari Temple Grandin sendiri. Temple Grandin, lahir tahun 1947, adalah seorang penyandang autis. Sekarang dia adalah professor di Colorado State University dan sering menjadi pembicara tentang autisme dan juga penanganan peternakan sapi potong. Dia juga banyak menulis buku tentang cara berpikir penyandang autis juga tentang perilaku hewan ternak.
Film ini menceritakan perjuangan hidupnya yang sungguh mengesankan.
Di masa kecil, orang tua Temple sendiri tidak mengerti mengapa Temple menyandang autis. Temple baru bisa berbicara di usia 4 tahun. Namun, orang tua Temple percaya anaknya memiliki otak yang cerdas, dan itu memang terbukti.
Di film ini, masa kecil Temple tidak terlalu diceritakan. Cerita dimulai dari masa-masa sekolah Temple di Hampshire Country School, sekolah untuk gifted children. Di sekolah itu diceritakan Temple yang sangat menyukai sains dan juga menggemari hewan-hewan ternak seperti kuda dan sapi. Temple dekat dengan Dr. Carlock, guru sainsnya. Dia juga senang sekali berada di dekat kuda dan sapi, Temple merasa bisa merasakan apa yang dirasakan hewan dan tidak dimengerti orang-orang lainnya.
Menurut Dr. Carlock, Temple mempunyai kemampuan visual yang hebat, dia berpikir dengan memvisualisasikan apa yang dirasakannya. Itu sebabnya dia agak kesusahan mempelajari pelajaran bahasa dan aljabar. Di film itu digambarkan bahwa Temple sangat jago mendesain sekaligus membuat berbagai peralatan mekanis. Temple Grandin adalah seorang visual thinker yang hebat.
Seperti tagline film ini: "Autism gave her a vision, she gave it a voice", autisme benar-benar membuat Temple memiliki cara pandang yang berbeda dengan orang pada umumnya, dan dia memiliki keberanian untuk terus belajar dan mencoba. Ibunya selalu bilang bahwa Temple itu berbeda, tapi tidak berkekurangan. Dr. Carlock setuju dengan pernyataan itu, Temple pun dibesarkan dengan pemikiran bahwa dia berbeda, tidak berkekurangan, tidak cacat.
"I am different, not less."
- Temple Grandin
Perjuangannya besarnya ketika menyelesaikan kuliahnya adalah mendesain sistem peternakan yang lebih baik dan efisien. Temple sangat menyayangi sapi-sapi ternak. Di peternakan memang ujung-ujungnya sapi akan dibunuh untuk dikonsumsi manusia, tapi ada proses panjang untuk itu, seperti penggiringan dan perendaman. Di proses itulah Temple merasa peternakan-peternakan yang ada saat itu tidak memiliki sistem yang bagus, dan malah menyiksa sapi. Padahal hal tersebut berbuntut pada kerugian perusahaan peternakan, tidak jarang ada sapi yang mati saat proses perendaman dan itu sangat merugikan.
"I think using animals for food is an ethical thing to do, but we've got to do it right. We've got to give those animals a decent life and we've got to give them a painless death. We owe the animal respect."
- Temple Grandin
Temple pun berjuang untuk meneliti tentang perilaku sapi, lenguhan sapi, dan mendesain proses perisapan penjagalan yang lebih baik. Tidak jarang dia diejek dan ditertawakan akan rencana penelitiannya itu. Apalagi dengan autistiknya, orang seringkali memandang rendah. Tapi dia berhasil membuktikan dengan membuat berbagai tulisan ilmiah yang dimuat di berbagai majalah seputar dunia peternakan. Dengan kemampuan berpikir visualnya dia berhasil mendesain sistem penggiringan sapi ke penjagalan yang lebih efisien.
Menurutku Temple Grandin memang seorang penyandang autis yang gagah.
Aku sebut penyandang karena beberapa waktu lalu Pak @hotradero juga menyebut seperti itu, penyandang autis. Autis bukanlah penyakit, jadi tidak layak kita menyebut "penderita". Setelah aku googling-googling juga memang sepantasnya kita menyebut penyandang. :)
Di akhir film itu juga diceritakan awal mula Temple menjadi pembicara tentang autis, dia berada di sebuah konvensi tentang autis bersama ibunya. Saat itu sang pembicara berbicara tentang penanganan autis. Tiba-tiba saja Temple dari bangku penonton berdiri dan menyatakan apa yang dia rasakan tentang autis. Beberapa orang mengira dia orang tua anak autis, padahal tidak, dia menjelaskan dia adalah penyandang autis yang beruntung mendapat kesempatan untuk sekolah dan juga kuliah, saat itu dia sudah mendapat gelar Master of Science-nya. Orang-orang pun kaget dan memintanya untuk berbicara di depan.
Yang gagah adalah kalimat-kalimat ini:
"Well, I am not cured, I'll always be autistic. My mother refused to believe that I wouldn't speak. And when I learned to speak, she made me go to school."
"I mean, they knew I was different, but not less. You know, I had a gift. I could see the world in a new way. I could see details that other people were blind to"
- - -
Film ini bener-bener keren, memberi pelajaran, dan juga menambah pengetahuanku tentang autis. Ada unsur edukasi yang penting juga di film ini, seringkali sistem pendidikan kita menyamakan setiap murid, tidak mau mengakui bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam belajar.
Claire Danes memainkan peran sebagai Temple Grandin dengan sangat apik di film ini, pasti susah banget untuk menirukan dan mendapatkan emosi seorang penyandang autis.
6.5/7 untuk film ini! :D
- - -
Tadi juga berkelana ke YouTube dan menemukan video presentasi Temple Grandin di TEDtalks yang berjudul: The world needs all kind of minds. Aku belum nonton juga nih masih streaming pas nulis ini, tapi pasti bermanfaat. :)
Ini deskripsi videonya di YouTube.
Autism activist Temple Grandin talks about how her mind works -- sharing her ability to "think in pictures," which helps her solve problems that neurotypical brains might miss. She makes the case that the world needs people on the autism spectrum: visual thinkers, pattern thinkers, verbal thinkers, and all kinds of smart geeky kids.
Lagu berjudul Hati-Hati karya Dialog Dini Hari, salah satu grup musik asal Bali yang kusuka! :D
Lagu ini masuk ke album pertama mereka yang berjudul "Beranda Taman Hati". Kalau kata temenku sih Dialog Dini Hari masuk ke aliran blues. Aku kurang paham musik, tapi aku suka sekali lagu-lagunya yang mayoritas akustik dan juga puitis. :)
Aku belum bisa beli albumnya, sebagai apresiasi aku sebarkan dulu lewat blog ini. Semoga nanti bisa beli albumnya.
Ini video live-nya yang kutemukan di YouTube. :D
httpv://www.youtube.com/watch?v=EzhPHtxrzkE
Mestinya yang kayak gini nih yang masuk tivi daripada yang hobby lip-sync. :D
Seneng juga beberapa waktu lalu sempet nonton konser Dialog Dini Hari :)
Sebagai penutup, ini dia lirik lagu Hati-hati.
Ngingetin kita semua biar hati-hati di jalan, jangan buru-buru. :)
Hati-Hati
Berangkatlah lebih awal biar tak buru-buru, bisa fatal
Jalan makin terasa sempit, motor saling berhimpit
Asap tinggi membungkit
Berangkatlah lebih dulu biar tak buru-buru, apa yang diburu
Hidup kita hanya sekali dan harus memilih
Jangan mati pagi
Hati-hati di jalan, lihat kiri dan kanan, lalu lalang kendaraan
Hati-hati di jalan, semoga sampai tujuan dengan aman
Makin banyak korban mati sia-sia, tak kenal usia
Makin banyak orang tak sabar, tak peduli
Tak saling menghormati
Saat pulang rehat bila perlu
Jangan buru-buru, aku pasti menunggu
Jagalah dirimu untuk orang lain, seirama harmoni
Hati-hati di jalan, lihat kiri dan kanan, lalu lalang kendaraan
Hati-hati di jalan, semoga sampai tujuan dengan aman
Akhir-akhir ini rame banget ya pada minta dan mengingatkan satu sama lain untuk melakukan vote Komodo via SMS. Ketik "KOMODO" kirim ke 9818, dengan biaya hanya satu rupiah.
Aku udah beberapa kali SMS vote juga. Tapi beberapa hari lalu aku teringat, perasaan beberapa tahun yang lalu ada "kontes" macam ini juga deh, dulu aku ingat vote by email. Aku sendiri lupa apa yang aku vote dulu.
Hasil berselancar di dunia maya membawaku ke blog salingsilang. Ini dia dua artikel yang kutemukan:
Nah, banyak fakta yang baru aku tahu dari 2 artikel tersebut. Coba lihat komik karya Cah Ndableg ini :
Komik itu meringkas berbagai informasi penting seputar keikutsertaan Taman Nasional Komodo dan New7Wonders. Kemudian aku pun berkelana mencari informasi lain, di sini aku kutip beberapa informasi menarik yang aku temukan.
- - -
Pernyataan Putra Sastrawan Ini kutipan berita dari detikNews tentang pernyataan Putra Sastrawan:
Pakar Komodo yang juga pendiri Komodo Putra Foundation ini menjelaskan, Komodo selama ini lebih dikenal oleh masyarakat internasional daripada masyarakat Indonesia sendiri. Berdasarkan catatan Balai Taman Nasional Komodo, lebih dari 90 persen pengunjung Taman Nasional Komodo adalah turis mancanegara, seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Belanda, Jerman.
"Oleh karena itu, upaya pemenangan voting Komodo melalui SMS yang bertujuan untuk menggaungkan Komodo ke dunia internasional tidaklah kontekstual. Apalagi sebagian hasil SMS tersebut harus disetor kepada LSM asing yang berpusat di Zurich, Swiss tersebut," tutur Putra.
Dia menambahkan, Taman Nasional Komodo yang telah mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai world heritage site (warisan dunia) sejak tahun 1991 lalu, tidak perlu dijadikan mass tourism, mengingat hewan langka yang sudah hidup lebih dari 60 juta tahun tersebut sangat sensitif terhadap perubahan iklim dan perlakuan manusia, yang setiap saat dapat mengancam kepunahan hewan tersebut.
Salah satu finalis New7Wonders, Maladewa, resmi menyatakan mundur dari kompetisi. Mereka menarik diri karena mahalnya biaya lisensi dan paket sponsor yang diminta panitia penyelenggara New7Wonders. Pengumuman ini dipajang di situs resmi pariwisata pemerintah Maladewa, visitmaldives.com.
"Dengan menyesal, kami menarik diri dari kompetisi ini karena tuntutan tak terduga atas sejumlah uang yang diminta dari penyelenggara New7Wonders," kata Thoyyib Mohamed, Menteri Negara Pariwisata, Seni dan Budaya dalam visitmaldives.com, Kamis (20/10/2011).
Maladewa awalnya setuju untuk berpartisipasi dalam kompetisi New7Wonders di awal tahun 2009 dan membayar biaya partisipasi administrasi US$ 199 atau sekitar Rp 1,7 juta. Namun, rincian biaya dan meningkatnya biaya tidak jelas diuraikan penyelenggara sebelum penandatanganan kompetisi.
"Kita tidak lagi merasa bahwa kelanjutan partisipasi dalam kompetisi ini adalah kepentingan ekonomi di Maladewa," ujar Thoyyib dengan kecewa.
Alasan mundurnya Maladewa mengingatkan Pulau Komodo dulu sempat terancam keluar dari kompetisi yang sama. Saat itu Menbudpar Jero Wacik menyatakan kekecewaannya terhadap ancaman panitia New7Wonders. Penolakan Indonesia sebagai tuan rumah karena permintaan fee sebesar US$ 45 juta seharusnya tidak menghapus daftar Pulau Komodo sebagai finalis.
- - -
Pernyataan UNESCO
Ini kutipan pernyataan UNESCO, pernyataan ini sudah dirilis dari tahun 2007:
In order to avoid any damaging confusion, UNESCO wishes to reaffirm that there is no link whatsoever between UNESCO's World Heritage programme, which aims to protect world heritage, and the current campaign concerning "The New 7 Wonders of the World".
This campaign was launched in 2000 as a private initiative by Bernard Weber, the idea being to encourage citizens around the world to select seven new wonders of the world by popular vote.
- - -
The list of the "7 New Wonders of the World" will be the result of a private undertaking, reflecting only the opinions of those with access to the internet and not the entire world. This initiative cannot, in any significant and sustainable manner, contribute to the preservation of sites elected by this public.
Catatan Redhunttravel tentang kontroversi New7Wonders
Now let’s add the Maldives Islands to the controversy.
The Maldives also pulled the plug on their bid to become a New 7th Wonder of Nature in May 2011, citing unexpected, unrealistic demands and rising costs from New Open World Corporation.
In 2009 they paid their $200 entry fee and the agreement had no specifics about incurring future additional fees or financial obligations. But surprise – it’s 2011 now and New Open World Corporation has sent them numerous requests for money including:
$350,000 for a platinum level sponsorship licensing fee,
two $210,000 requests for gold level licensing fees,
a $1million license fee to put the New 7 Wonders of Nature logo on planes,
a $1million license fee for their national telecom operator to participate for allowing phone voting and,
a request for a ‘World Tour’ stop in the Maldives for the New 7 Wonders delegates to party and enjoy the country at a cost of $500,000.
Needless to say, the Maldives refused and New Open World Corporation accepted their resignation from the competition. But in both cases, the listings were not removed, New Open World Corporation simply said they accepted that the committees that registered Komodo and the Maldives were no longer valid, and that they would entertain finding new ‘Official Supporting Committees’ for each entry. In other words – they would seek money from other businesses or individuals in Indonesia and the Maldives.
Sound sketchy? It sure does. I’ve been involved in many award applications in the travel industry and have never had to pay an extra penny after the initial application process.
Fakta-fakta menarik berikutnya aku dapat dari blog Priyadi Iman Nurcahyo: Aku hanya mengutip sebagian kecil tulisan mas Priyadi Iman Nurcahyo, lebih lengkapnya baca di sini ya:
Menurutku, tulisan yang tentang dampak ekonomi itu wajib baca. :)
Berikut adalah fakta-fakta tentang New7Wonders yang perlu diketahui oleh kita semua:
New7Wonders adalah sebuah perusahaan privat asal Swiss. New7Wonders bukanlah yayasan atau organisasi Internasional yang beranggotakan negara-negara di dunia.
Tidak ada lembaga dunia yang memberi mandat kepada New7Wonders untuk dapat menetapkan tujuh keajaiban dunia. Jika New7Wonders menetapkan ’7 keajaiban alam dunia’, maka ketetapan tersebut sebenarnya tidak lebih kuat daripada daftar 7 keajaiban dunia versi pribadi saya.
Mengapa hanya tujuh? Angka tujuh hanyalah angka yang dipilih secara arbitrary. Lembaga yang jauh lebih serius seperti UNESCO menetapkan tak kurang dari 900 lokasi di dunia sebagai World Heritage Site, yaitu tempat-tempat yang perlu dijaga kelestariannya.
‘Keajaiban dunia’ dipilih tidak melalui kriteria pemilihan benar. Sama sekali tidak ada verifikasi bahwa satu orang hanya memilih satu kali saya. Yang mereka lakukan hanya memastikan satu alamat email hanya memilih satu kali.
New7Wonders membuat layanan voting melalui telepon dan SMS premium di beberapa negara. Tidak seperti voting melalui email, pada voting melalui telepon dan SMS premium ini, pemilih diperbolehkan untuk mengirim voting sebanyak mungkin yang mereka mau!
Tidak ada audit, baik oleh negara peserta maupun pihak independen, terhadap voting yang dilakukan. Bisa saja, misalnya, hasil dipilih sesuai dengan selera mereka sendiri.
Tidak benarnya kriteria pemilihan terlihat jelas dari terpilihnya Patung Kristus Penebus di Brazil. Sebagai informasi, Patung Kristus Penebus baru berumur 78 tahun pada saat pemilihan berlangsung, tingginya hanya 39 meter, dan dibuat dengan teknologi modern. Bandingkan ini dengan Candi Prambanan yang tingginya 47 meter dan dibuat 11 abad yang lalu.
Dewan pariwisata A meningkatkan pemasaran tentang A
A terpilih menjadi pemenang New7Wonders
Pengunjung A meningkat.
Setelah 4 terjadi, maka banyak pihak yang akan mengklaim bahwa 4 disebabkan oleh 3. Padahal bukan tidak mungkin 3 dan 4 terjadi karena 2. Dan sebenarnya 2 dapat saja dilakukan tanpa 1. Apalagi mengingat bahwa New7Wonders tidak melakukan pemasaran apapun selain menobatkan A menjadi pemenang.
- - -
Ada peningkatan pengunjung monumen-monumen setelah terpilih menjadi New7Wonders. Akan tetapi sebagian besar dari peningkatan ini merupakan tren dan bagian dari fluktuasi normal yang telah ada sebelumnya, jadi tak dapat seluruhnya dikaitkan dengan faktor New7Wonders. Peningkatan pengunjung yang terjadi pada 2007-2008 bukanlah rekor individu mereka
Di tingkat negara, praktis tak terlihat adanya peningkatan signifikan jumlah pengunjung yang disebabkan oleh terpilihnya monumen sebagai pemenang New7Wonders.
- - -
Itulah beragam fakta yang kutemukan.
Kontes New 7 Wonders walaupun kontroversial, tetap ada dampak positifnya. Bagus juga sih, komodo jadi lebih terpublikasi lewat web New 7 Wonders. :D Sekaligus mengingatkan kita bahwa Indonesia mempunyai banyak potensi wisata.
Tapi seharusnya tanpa adanya New 7 Wonders kita pun tetap gencar mempromosikan kekayaan Indonesia. :)
Apa masih kebiasaan digetok dulu baru jalan ya? Emang masih susah dihilangin sih. Tapi, harus bisa. :)
Sekarang setelah baca-baca berbagai fakta seputar New 7 Wonders, aku pun memilih untuk tidak ikut voting New 7 Wonders.
Apa kamu masih ikut vote? ;)
- - -
Untuk Komodo,
semoga tetap hidup dengan tenang ya di Taman Nasional Komodo, aku belum pernah berjumpa denganmu.
Walaupun aku gak vote kamu, bukan berarti aku gak cinta kamu. :)
Perwakilan Indonesia di Swiss, KBRI Bern telah lama menyelidiki panitia New7 Wonders. Hasilnya diperoleh sejumlah kejanggalan. Bayangkan, alamat kantor yang diklaim berada di sebuah kota di Swiss saja tidak pernah ada.
- - -
Tim dari Jakarta yang dibantu oleh staf KBRI Bern mengadakan kunjungan ke alamat yang tertulis sebagai kantor Yayasan N7W: Hoeschgasse 8, P.O. Box 1212, 8034 Zurich. Ternyata kode pos dari alamat yang diberikan tidak sesuai, seharusnya alamat itu adalah: Hoeschgasse 8, P.O. Box 1212, 8008 Zurich, di mana terdapat museum Heidi Weber yang diarsiteki oleh Le Corbusier dan selesai dibangun pada tahun 1967. Museum itu hanya buka pada musim panas (Juni, Juli, Agustus) dari jam 14.00 - 17.00.15.
Tim dari Jakarta juga mendatangi kantor Pengacara Patrick Soemmer dari Kantor Pengacara CMS von Erlach Henrici Ltd, untuk mendapatkan bantuan.16. Sebagai yayasan, keberadaan N7W cukup unik.
Yayasan ini tak jelas alamatnya, kecuali alamat e-mail-nya, hanya tertulis N7W berdiri di Panama, berbadan hukum Swiss, dan pengacaranya berada di Inggris.